Tak Melulu Tentang Bahagia


Ada hari-hari ketika aku merasa dilahirkan ke dunia yang berbeda dari milik orang lain. Seolah setiap orang membawa peta, sementara aku hanya membawa tanya. Namun, semakin jauh melangkah, semakin aku sadar bahwa barangkali memang beginilah cara rasa tumbuh dengan pelan, tanpa aba-aba, tanpa persetujuan.


Kita semua bernaung di satu atap yang sama, sebuah tempat bernama dunia. Atap yang bocor di sana-sini, menyisakan genangan kisah pada setiap kepala. Di sinilah kita menimbun cerita, menumpuknya seperti debu yang enggan disapu. Dunia, seperti yang sering kudengar, bukanlah rumah bagi kepastian. Ia gemar bersembunyi di balik kemungkinan, membuat kita menebak-nebak, lalu tersenyum samar ketika tebakan itu meleset.

Aku sering mengarungi diri sendiri seperti lautan yang konon penuh kesalahan. Ombaknya adalah kalimat-kalimat dari isi kepala yang tak pernah sepakat satu sama lain. Mereka berseteru tanpa jeda, mempersoalkan arah, mempersoalkan makna, mempersoalkan apakah semua ini layak diteruskan. Padahal, siapa pernah hidup dengan benar-benar sentosa?

Tidak ada, kataku pada cermin yang mulai lelah memantulkan wajahku.

Jika hari ini terasa lara, mungkin memang begitu caranya hidup menyapa. Bukan dengan pelukan, melainkan dengan gertakan. Ia mengguncang bahu, memaksa kita terjaga, memaksa kita melihat bahwa ada sesuatu yang harus dikuatkan dari dalam diri. Luka seperti guru yang datang tanpa perkenalan, membawa ujian tanpa memberi kisi-kisi.

Aku pernah marah pada lara. Menganggapnya tamu tak tahu diri. Datang, duduk, mengacak-acak ruang tamu batin, lalu menetap lebih lama dari yang bisa kuterima. Tetapi waktu, dengan sabarnya yang menua, membisikkan sesuatu yang tak ingin kudengar bahwa kedatangannya tidak pernah sia-sia.

Lara selalu lebih dulu bertamu, sebelum tegak belajar berdiri.

Barangkali memang itu rahasianya. Kita dikeraskan bukan oleh bahagia yang halus, tetapi oleh retakan-retakan yang memaksa kita merapatkan diri. Hari ini, yang terasa seperti reruntuhan, diam-diam sedang menyiapkan pondasi. Hari ini, yang kupanggil kehilangan, mungkin sedang menamai ulang diriku menjadi ketabahan.

Walau ia tak diundang, walau pintu tak pernah kubuka dengan rela, ternyata semua benar ada maksudnya.

Dan di malam-malam ketika dunia terasa terlalu luas untuk dipeluk sendirian, aku belajar satu hal kecil: bertahan juga bentuk keberanian. Menangis pun, kadang, adalah cara paling jujur untuk tetap hidup.

Maka jika esok datang dengan wajah yang masih menyimpan sisa perih, aku akan mempersilahkannya masuk. Duduklah, kataku pada lara, kita pernah asing, tapi kini aku mengerti bahwa kau sedang menegakkan sesuatu di dalam diriku.

Dengan Pelan-pelan, tanpa tepuk tangan. 


Kulon Progo, 8 Februari 2026

Komentar

Postingan Populer