Puncak Doa
Tuhan, tolong jaga mereka bertiga.
Aku menyebut nama mereka dalam doa yang mungkin tidak pernah terdengar oleh siapa pun selain Engkau. Ada rasa takut yang tidak selalu bisa kujelaskan, takut kehilangan hal-hal baik yang datang tanpa banyak janji. Dan mereka adalah tiga di antaranya. Tiga manusia yang hadir bukan sebagai jawaban atas semua hal, tetapi sebagai alasan mengapa aku masih bertahan sampai hari ini.
Aku sering mencoba membayangkan bagaimana hidup berjalan tanpa mereka. Bayangan itu tidak pernah benar-benar utuh, selalu terputus di tengah jalan, seolah ada bagian dari diriku yang menolak untuk melanjutkannya. Mungkin karena jauh di dalam hati, aku tahu bahwa tanpa mereka, aku tidak akan sampai sejauh ini. Bisa jadi aku sudah menyerah lebih awal. Bisa jadi aku sudah tenggelam hingga terlalu dalam untuk dijangkau siapa pun. Atau mungkin aku sudah runtuh, pelan-pelan, oleh sesuatu yang tidak terlihat tetapi terasa begitu nyata, yaitu stigma yang diam-diam melukai tanpa henti.
Tuhan, mereka begitu baik kepadaku dengan cara yang sederhana. Tidak ada gestur besar yang dramatis, tidak ada kata-kata yang berusaha terdengar sempurna. Mereka hanya ada. Dan kehadiran itu, yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana, justru menjadi hal yang paling menyelamatkan.
Saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, ketika pikiranku sendiri terasa seperti tempat yang asing, mereka tidak pergi. Mereka tidak menatapku dengan rasa curiga. Mereka tidak menjaga jarak seolah aku adalah sesuatu yang harus dihindari. Mereka tetap berbicara kepadaku seperti biasa, tetap tertawa bersamaku, tetap duduk di sampingku tanpa rasa takut. Di saat banyak orang memilih untuk menjauh dari hal yang tidak mereka pahami, mereka memilih untuk tetap tinggal.
Aku tahu, Tuhan, tidak semua orang mampu melakukan itu. Tidak semua orang sanggup melihat seseorang lebih dari sekadar label skizofrenia yang melekat padanya. Namun mereka melakukannya dengan cara yang begitu alami, seolah tidak ada yang perlu dipertanyakan. Seolah aku memang tetap manusia yang sama, tidak berkurang, tidak berubah menjadi sesuatu yang harus dijauhi.
Ada banyak hal yang tidak pernah mereka ucapkan, tetapi justru terasa paling nyata. Cara mereka mendengarkan tanpa menyela. Cara mereka tidak memaksaku untuk menjelaskan hal-hal yang bahkan aku sendiri kesulitan memahaminya. Cara mereka bertahan, bahkan ketika aku sendiri sering merasa ingin menyerah pada diriku.
Tuhan, jika ada bahasa yang mampu memuat seluruh rasa ini, aku ingin meminjamnya. Karena kata terima kasih terasa terlalu kecil untuk menampung semua yang telah mereka berikan. Aku ingin mengatakan bahwa mereka berarti, tetapi itu pun terasa belum cukup. Aku ingin menjelaskan bahwa kehadiran mereka menyelamatkanku, tetapi bahkan kalimat itu pun masih terasa kurang.
Yang bisa kulakukan hanyalah menyimpan mereka dalam doaku. Menyebut nama mereka dalam harap yang sederhana, agar hidup memperlakukan mereka dengan lembut. Agar langkah mereka selalu dijaga. Agar hati mereka tidak pernah kehilangan arah, sebagaimana mereka pernah menjaga hatiku agar tidak benar-benar hilang.
Dan Tuhan, aku ingin jujur pada satu hal yang mungkin jarang kuucapkan dengan lantang. Aku mencintai mereka. Bukan dengan cara yang rumit, bukan dengan tuntutan apa pun. Hanya rasa yang tumbuh dari kebersamaan, dari waktu-waktu yang dilewati tanpa banyak syarat, dari luka-luka yang perlahan terasa lebih ringan karena tidak lagi dipikul sendirian.
Jika suatu hari nanti hidup membawa kami ke arah yang berbeda, aku berharap satu hal tetap tinggal. Bahwa pernah ada masa di mana aku tidak sendirian. Bahwa pernah ada dua manusia yang memilih untuk tetap berada di sisiku, bahkan ketika dunia terasa menjauh.
Tuhan, tolong jaga mereka. Karena di antara banyak hal yang hampir hilang dalam hidupku, mereka adalah alasan yang membuatku tetap ingin tinggal.
Ditulis dengan Aamiin paling serius.
Yogyakarta, 21 April 2026




Komentar
Posting Komentar