OVERTHINGKING
Entah bagaimana keadaanmu sekarang. Aku hanya ingin mendengar satu kabar darimu, apa pun bentuknya. Kabar baik yang membuatku ikut lega, atau kabar buruk yang setidaknya memberiku alasan untuk mengkhawatirkanmu dengan benar. Sebab yang paling melelahkan bukanlah kenyataan, melainkan kemungkinan-kemungkinan yang tumbuh liar ketika seseorang memilih diam.
Pesanku sudah lama terkirim. Tidak ada yang istimewa, hanya beberapa kalimat sederhana yang kutulis dengan hati-hati, seperti seseorang yang mengetuk pintu rumah orang lain tanpa ingin terdengar mengganggu. Namun waktu terus berjalan, sementara balasan yang kutunggu tak kunjung datang. Pesan itu tertinggal di sana, menggantung di antara harapan dan prasangka, di antara keinginan untuk mengerti dan ketakutan untuk mengetahui.
Mula-mula aku mencoba berpikir baik. Mungkin kau sedang sibuk. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan, urusan yang menuntut perhatianmu, atau hari yang terlalu padat hingga kau tak sempat membuka percakapan kita. Bukankah hidup memang sering kali seperti itu? Ada masa ketika seseorang begitu tenggelam dalam rutinitasnya sampai lupa memberi kabar kepada orang yang menunggunya.
Namun malam memiliki kebiasaan buruk: ia memperbesar apa pun yang berusaha kita sembunyikan sepanjang hari.
Semakin larut waktu berjalan, semakin sulit aku menenangkan pikiranku sendiri. Hal-hal yang tadinya tampak sederhana perlahan berubah menjadi pertanyaan. Dan pertanyaan yang dibiarkan terlalu lama sendirian sering kali menjelma menjadi ketakutan.
Aku mulai bertanya-tanya, bukan tentang mengapa kau belum membalas, melainkan tentang apa yang sebenarnya telah berubah. Apakah kau baik-baik saja? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau jangan-jangan, aku yang tak lagi memiliki tempat dalam daftar hal-hal yang ingin kau jawab segera?
Barangkali terdengar berlebihan. Toh, ini hanya sebuah pesan. Hanya beberapa kata yang belum mendapatkan balasan. Tetapi perasaan manusia memang jarang sesederhana logika. Kita tidak pernah benar-benar gelisah karena pesan yang tak dibalas. Kita gelisah karena diam membuat kita meragukan banyak hal yang sebelumnya terasa pasti.
Telah hilangkah aku di hatimu? Pertanyaan itu datang begitu saja, lalu menetap. Bukan karena aku ingin mencurigaimu, melainkan karena kehilangan sering kali datang dengan cara yang sunyi. Ia tidak selalu diawali pertengkaran atau perpisahan yang jelas. Kadang ia hadir melalui jeda-jeda kecil yang terus memanjang, melalui percakapan yang semakin jarang, melalui perhatian yang perlahan berkurang hingga suatu hari kita sadar bahwa seseorang yang dulu terasa begitu dekat kini lebih asing daripada orang yang baru ditemui.
Aku berharap dugaanku salah. Aku berharap semua ini hanya kecemasan yang kubesarkan sendiri. Sebab jauh di dalam hati, aku masih ingin percaya bahwa kau hanya sedang sibuk menjalani hidupmu. Bahwa di sela segala hal yang harus kau urus, namaku belum sepenuhnya hilang dari ingatanmu. Bahwa suatu saat nanti ponselmu akan bergetar, kau membaca pesanku, lalu tersenyum kecil karena menyadari ada seseorang yang diam-diam mencemaskanmu.
Sampai saat itu tiba, aku hanya bisa menunggu. Menunggu dengan cara yang paling manusiawi: sesekali memahami, sesekali berprasangka, sesekali memaksa diri untuk tidak terlalu berharap, lalu diam-diam berharap lagi.
Karena pada akhirnya, yang paling menyakitkan dari sebuah pesan yang tak kunjung dibalas bukanlah kesunyian itu sendiri. Melainkan kenyataan bahwa kita tidak pernah tahu apakah seseorang sedang sibuk menjalani harinya, atau sedang belajar menjalani hari-harinya tanpa kita.
Yogyakarta, 18 Juni 2026
Dear

Komentar
Posting Komentar