Sebaik-baik jawaban untuk perasaan yang Dirahasiakan
Kini kau telah menjadi titik, tetapi anehnya, tidak ada kalimat baru yang benar-benar mampu dimulai setelahmu. Aku berkali-kali mencoba mengumpulkan huruf, menyusunnya menjadi kata, lalu menjadikannya doa-doa kecil agar hidupku kembali menemukan arah. Namun, segala yang kutulis selalu berakhir pada namamu. Seolah-olah sebagian dari bahasaku masih tertinggal di dalam dirimu, jauh di tempat yang tidak dapat kujangkau, tetapi terlalu dekat untuk benar-benar kulupakan.
Kau adalah hutan yang dahulu ingin kutinggali, meski aku tahu di dalamnya tumbuh banyak ketakutan. Aku datang tanpa peta, tanpa senjata, hanya membawa keyakinan bahwa cinta dapat menjinakkan segala yang buas. Namun, rupanya kehilangan adalah binatang paling liar. Ia tidak menerkam sekaligus, melainkan menggerogoti sedikit demi sedikit, sampai seseorang tidak lagi mengenali bentuk dirinya sendiri.
Kau juga serupa laut. Indah dari kejauhan, tetapi menyimpan kedalaman yang tidak pernah benar-benar kupahami. Aku pernah mencoba menyelam, mempelajari arusmu, menghafal pasang surutmu, dan menahan napas selama mungkin agar dapat tinggal lebih lama di dalam duniamu. Sayangnya, aku bukan penyelam yang baik. Aku hanya seseorang yang terlalu mencintai laut, lalu mengira tenggelam adalah salah satu cara untuk menetap.
Aku bukan tidak ingin mempelajari seluruh hal yang paling menakutkan dalam dirimu. Aku ingin mencintai luka-lukamu, kemurunganmu, diam-diam panjangmu, juga ketakutan yang tidak sanggup kauucapkan. Aku ingin mencintaimu secara utuh, bahkan pada bagian-bagian yang tidak pernah kauperlihatkan kepada siapa pun. Namun, bagaimana mungkin aku terus memberikan seluruh diriku kepada seseorang yang perlahan-lahan mengambil kembali perasaannya?
Aku semakin penuh olehmu, sementara kau semakin kosong olehku.
Hari demi hari, aku merasa seperti rumah yang terus menyalakan lampu untuk seseorang yang sudah lama memilih jalan lain. Aku menunggu dengan pintu terbuka, menyimpan hangat di ruang tengah, dan memastikan tidak ada debu menutupi kenangan kita. Akan tetapi, kau justru membangun sekat demi sekat, hingga aku menjadi tamu di dalam hubungan yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Sekuat apa pun kuhidupkan namamu di dalam dada, jika sikapmu terus menjadikan perasaanku sebagai sesuatu yang harus menunggu di luar, pada akhirnya aku hanya akan mengenal keterasingan. Aku akan berdiri di depanmu sebagai seseorang yang pernah mengetahui segala hal tentangmu, tetapi tidak lagi memiliki tempat untuk bertanya apakah harimu baik-baik saja.
Andai kau adalah sebuah rahasia, barangkali jawabannya tidak pernah tersembunyi. Jawaban itu selalu berada dalam caramu memperlakukanku. Dalam balasan-balasan yang semakin singkat. Dalam pertemuan yang tidak lagi kauusahakan. Dalam matamu yang perlahan kehilangan cahaya ketika memandangku. Dalam diam yang dahulu terasa menenangkan, tetapi kini berubah menjadi ruang tunggu bagi sebuah perpisahan.
Aku tidak perlu lagi menunggu mulutmu mengatakan bahwa kau sudah tidak mencintaiku. Tubuhmu telah lebih dahulu mengakuinya. Sikapmu telah menyusun kalimat yang tidak pernah berani kauucapkan. Dan aku, dengan segala kebodohan yang kupelihara, terus membacanya sebagai sesuatu yang masih dapat diperbaiki.
Mungkin cinta memang membuat seseorang pandai menciptakan alasan. Kita menyebut pengabaian sebagai kesibukan. Kita menyebut jarak sebagai kebutuhan untuk sendiri. Kita menyebut perubahan sebagai fase. Padahal, kadang-kadang seseorang memang telah selesai, hanya saja kita belum memiliki keberanian untuk menerima bahwa akhir dapat datang tanpa suara.
Nyatanya, sesuatu yang dahulu tumbuh seperti taman bunga dapat berubah menjadi bukit-bukit batu. Tempat yang sebelumnya dipenuhi warna perlahan menjadi tandus, terjal, dan sulit didaki. Aku masih membawa air, sementara kau tidak lagi menanam apa-apa. Aku masih merawat tanahnya, meskipun kau telah mencabut akar-akar yang pernah kita tumbuhkan bersama.
Kau bermetamorfosis dari sesuatu yang indah menjadi sesuatu yang terbelah. Barangkali bukan dirimu yang berubah, melainkan caramu memandangku. Barangkali aku memang tidak lagi menjadi seseorang yang ingin kaupeluk setelah hari yang panjang. Tidak lagi menjadi nama yang ingin kauceritakan kepada dunia. Tidak lagi menjadi rumah yang kauingat ketika segala tempat terasa terlalu asing.
Perlahan-lahan, keutuhan rasamu berpindah. Entah menuju siapa, entah menuju apa. Aku hanya tahu, tidak ada lagi bagian yang tersisa untukku. Semua terlepas dari genggamanku, meski aku telah berusaha bertahan dengan cara paling gagah yang mampu dilakukan oleh seseorang yang hampir patah.
Hubungan kemarin barangkali hanyalah ketelanjuran yang terlalu lama kita sebut takdir. Sebuah cara melepaskan yang begitu rumit karena kita pernah belajar menggenggam terlalu erat. Kita pernah menjadi dua orang yang saling menjanjikan pulang, tetapi akhirnya justru menjadi alasan mengapa rumah terasa menakutkan.
Tidak dapat lagi dibantah bahwa aku dan kau pernah menjadi kita. Pernah ada masa ketika dunia terasa lebih sederhana karena kau tinggal di dalamnya. Pernah ada hari-hari ketika namamu menjadi kalimat pertama yang ingin kubaca pada pagi hari dan doa terakhir yang kuucapkan sebelum tidur.
Namun, mungkin Tuhan mempertemukan kita bukan untuk menetap. Mungkin kita hanya diminta saling mengantarkan menuju bentuk kehilangan yang lebih dewasa. Kita dipertemukan agar kelak memahami bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki, dan melepaskan tidak selalu berarti berhenti menyayangi.
Barangkali tugasku memang hanya belajar rela. Rela melihatmu bahagia bersama seseorang yang bukan aku. Rela mengetahui bahwa tangan yang kelak kaugenggam bukan lagi tanganku. Rela membayangkan seseorang menempati tempat yang dahulu kuanggap sebagai rumah. Atau, jika semesta menghendaki bentuk kehilangan yang lebih sunyi, aku harus rela mencintaimu di dalam ketiadaanmu.
Kini, satu-satunya hal yang mungkin mampu menyelamatkan kita adalah jarak. Bukan untuk memperbaiki apa yang telah rusak, melainkan agar kerusakan itu tidak semakin melukai. Jarak adalah tempat di mana diam akhirnya menjadi sebaik-baiknya jalan. Tempat aku berhenti mengusik hidupmu, dan kau berhenti memberiku harapan yang tidak benar-benar ingin kaupelihara.
Aku akan membiarkan segala yang pernah terjadi tinggal sebagai kenangan. Tidak akan kupaksa ia kembali menjadi kenyataan. Beberapa hal memang lebih indah ketika dibiarkan hidup di masa lalu. Sebab, ketika dibawa kembali ke hari ini, ia hanya akan menunjukkan betapa banyak hal telah berubah.
Kadang-kadang, sebuah pertemuan memang diciptakan untuk meniadakan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sebuah jalinan dibentuk hanya agar kita memahami pedihnya kehilangan ikatan. Dua manusia dipersatukan bukan untuk selamanya, melainkan agar kelak masing-masing mengetahui cara berjalan sendirian.
Sudah menjadi jalannya bahwa tidak semua yang kita pertahankan akan bertahan. Tidak semua yang kita cintai akan memilih tinggal. Tidak semua yang kita sebut rumah akan tetap membuka pintunya. Kadang-kadang, kita hanya diberi kesempatan untuk singgah, menghangatkan diri sebentar, kemudian kembali melanjutkan perjalanan dengan membawa sepotong kenangan yang tidak dapat diletakkan di mana-mana.
Mungkin untuk sampai pada sesuatu yang telah Tuhan tetapkan bagi kita, akan ada banyak kepergian yang harus diikhlaskan. Akan ada nama-nama yang harus berhenti disebut dalam doa. Akan ada rencana-rencana yang harus dikuburkan tanpa upacara. Akan ada masa depan yang pernah kita bayangkan bersama, tetapi akhirnya hanya dapat kukenang seorang diri.
Sebelum menjadi seasing ini, kita adalah dua orang yang selalu ingin mengenal satu sama lain. Kita saling bertanya tentang hal-hal kecil, tentang makanan kesukaan, ketakutan masa kanak-kanak, mimpi yang belum tercapai, sampai luka-luka yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Kita pernah begitu ingin masuk lebih dalam ke dalam kehidupan masing-masing, seolah-olah tidak ada pintu yang perlu ditutup.
Kita terjatuh dalam perasaan yang kita ciptakan berdua. Tidak ada hari-hari yang terasa terlalu buruk selama masih ada kau di ujung percakapan. Tidak ada penyesalan atas apa yang telah kita jalani. Bahkan kesedihan terasa memiliki keindahan ketika dipikul bersama.
Semuanya begitu elok, bahkan ketika dipandang dari titik paling buruk sekalipun.
Kau dan aku pernah ingin tenggelam lebih dalam ke dalam setiap pernyataan tulus yang kita ikrarkan. Kita percaya bahwa kalimat-kalimat sederhana dapat menjaga cinta tetap hidup. Kita mengucapkan selamanya dengan begitu mudah, tanpa pernah bertanya apakah manusia benar-benar mampu menanggung kata sepanjang itu.
Hingga akhirnya, sesuatu tumbuh di dalam hatimu. Sesuatu yang perlahan-lahan meredupkan diriku di dalamnya. Aku tidak tahu apakah itu kejenuhan, luka, atau cahaya baru yang datang dari seseorang yang lain. Aku hanya tahu bahwa sejak saat itu, aku mulai kehilangan tempat.
Aku tercampakkan menjadi sisa-sisa kebahagiaan yang tidak lagi kauhiraukan. Seperti foto lama yang masih kau simpan, tetapi tidak pernah lagi kaupandang. Seperti lagu yang dahulu kauputar berulang kali, kemudian suatu hari kaulewati tanpa alasan. Seperti sebuah rumah yang pernah kauhuni, tetapi alamatnya telah kauhapus dari ingatan.
Begitu mudahnya aku kehilangan kedudukan sebagai jalan pulangmu. Begitu mudahnya kau berjalan menuju sesuatu yang kauanggap lebih terang, sementara aku masih berdiri di tempat yang sama, memunguti serpihan diriku yang kaujatuhkan sepanjang perjalanan.
Maka, terima kasih.
Terima kasih karena pernah membuatku percaya bahwa aku dapat dicintai sedemikian dalam. Terima kasih karena telah mengajariku bahwa sesuatu yang paling hangat pun dapat berubah menjadi dingin. Terima kasih karena pernah menjadikan aku rumah, meski pada akhirnya kau juga yang memadamkan lampunya.
Barangkali kau memang hanya mencintaiku pada kemarin sore, ketika matahari belum benar-benar pergi dan dunia masih berwarna keemasan. Sementara kini, malam telah tumbuh di antara kita.
Dan kau telah menjadi legam bersama rembulan, meninggalkan aku sebagai seseorang yang masih menunggu pagi dari arah yang tidak lagi mengenal cahaya.
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar