Hari ini milik Biru
Yogyakarta, 18 September 2026.
Hira selalu punya cara untuk meredam gemuruh, bahkan ketika isi kepalaku sedang riuh-riuhnya berserakan. Tempat ini tidak pernah berubah sejak pertama kali kakiku melangkah memasukinya awal tahun yang lalu. Cahaya lampu pendar yang kekuningan jatuh menimpa meja kayu yang berderit pelan setiap kali aku menumpukan beban tubuhku di atasnya. Di sinilah aku duduk, membiarkan malam semakin larut, sementara di dalam dadaku, sebuah badai baru saja dimulai.
Semalam, sebuah tawaran datang menyodorkan janji masa depan yang selama ini selalu tampak buram. Sebuah surel resmi dan panggilan telepon yang mengonfirmasi bahwa namaku terpilih. Pekerjaan itu datang dengan angka-angka yang sangat menjanjikan, angka yang bisa menyelesaikan banyak hal, angka yang menuntutku untuk segera mengangguk. Kebutuhan memaksaku menyetujui, melucuti segala alibi dan pembenaran untuk menolak. Aku sedang butuh uang, dan dunia orang dewasa tidak pernah memberikan ruang yang cukup bagi mereka yang hanya ingin hidup dari sekadar idealisme. Namun hari ini, ketika matahari perlahan bersembunyi dan senja meredup menjadi kelam, perih itu perlahan menjalar. Rasa sakit yang tak kasat mata merayapi setiap sudut kewarasan, mengingatkanku pada harga mahal yang harus kubayar untuk sebuah kemapanan.
Dua puluh enam bulan. Waktu yang tidak sebentar. Selama lebih dari dua tahun ke depan, aku akan mengemban tugas ke dua belas kota di kawasan paling pelosok di Indonesia Timur. Dari Bintuni yang senyap hingga Masela yang jauh, dari Halmahera hingga tepian Seram. Di luar sana, semesta yang terbentang luas dan cakrawala yang tak sudi berujung, telah menunggu untuk kujadikan gelanggang pertarungan. Aku akan bertarung melawan rasa sepi, melawan jarak, dan yang paling menakutkan, bertarung melawan ingatanku sendiri tentang kenyamanan kota ini.
Langkah ini terasa terlampau pias. Ada perjumpaan yang mati-matian kutolak untuk sekadar memudar menjadi kenangan. Aku harus menanggalkan Jogja, kota yang diam-diam telah mengakar dalam pembuluh darahku. Jogja bukan sekadar koordinat pada peta bagiku. Ia adalah sekumpulan memori yang berdesakan di setiap sudut jalannya. Jalan Palagan yang bising namun selalu menawarkan tempat untuk menepi. Rute Jalan Damai yang teduh, tempat di mana pepohonan seolah ikut mendengar segala keluh kesah yang kita lontarkan di atas kendaraan roda dua yang melaju pelan. Barangkali memang benar perkataan orang, perpisahan hanyalah cara semesta menagih utang dari setiap pertemuan yang pernah kita rayakan.
Meninggalkan Jogja berarti aku harus melepas seorang karib. Meninggalkan dia yang tak pernah lelah melapangkan dada, menjadi muara bagi segala keluh dan ceracauku yang sering kali tidak masuk akal. Biru. Mengingat nama itu saja membuat dadaku terasa diremas oleh tangan yang tak terlihat. Jika aku memiliki kuasa, jika saja aku diizinkan menentang hukum alam, ingin rasanya aku menikam waktu. Aku ingin membekukan jarum jam di dinding Hira ini agar segala yang ada di sini tetap utuh. Mati-matian aku merapal benci pada perubahan, tak rela secuil pun bentuk kebahagiaan ini terenggut oleh rutinitas baru yang menungguku di belahan bumi yang lain. Aku tidak ingin waktu berlalu. Aku ingin kita tetap duduk di sini, menertawakan hal-hal sepele, membedah buku-buku yang belum selesai kita baca, dan membiarkan dunia luar berjalan tanpa perlu kita hiraukan.
Biru adalah anomali di tengah dunia yang selalu menuntut manusia untuk memiliki motif dalam setiap kebaikannya. Kita telah berhasil membungkam skeptisme dunia. Kita membuktikan bahwa sepasang manusia, seorang laki-laki dan perempuan, bisa merawat afeksi yang begitu dalam tanpa harus dirusak oleh ekspektasi asmara yang rumit. Persahabatan kita adalah sebuah monumen yang berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh prasangka orang-orang yang mengira kedekatan selalu berujung pada cinta yang menuntut kepemilikan.
Aku ingat malam-malam ketika kita hanya duduk berdampingan tanpa bertukar kata. Kita membiarkan alunan lagu Tulus memutar cerita melalui telinga kita, menikmati melodi penuh damba dan lirik yang melankolis, seolah suara itu cukup untuk mewakili ribuan kata yang gagal kita ucapkan. Kita sering berdebat tentang lirik-lirik itu, tentang bagaimana seseorang bisa menuliskan luka dengan cara yang begitu anggun. Dan di saat-saat seperti itu, kau selalu menjadi pendengar yang paling sabar. Kau tidak pernah menghakimiku ketika aku sedang jatuh, kau tidak pernah menyela ketika aku butuh ruang untuk merapal kecewa. Kau hanya ada di sana, menawarkan keberadaanmu yang lebih dari cukup.
Namun, semesta nyatanya enggan membiarkan naskah kita berjalan tanpa jeda. Ada kalanya angin harus bertiup ke arah yang berbeda untuk menguji seberapa kuat akar kita menancap di tanah. Ada kendala dan ada tantangan yang datang tanpa permisi. Keputusanku untuk menerima pekerjaan ini adalah salah satu dari badai itu. Aksara-aksara di blog ini kelak akan abadi menjadi saksi. Ia akan merekam bahwa apa yang pernah kita lewati adalah murni ketulusan yang tak pernah menuntut kembalian. Persahabatan kita tidak dibangun di atas fondasi pamrih, melainkan di atas rasa saling mengerti yang perlahan tumbuh subur di setiap pertemuan.
Dua puluh enam bulan. Aku akan merapal hitung mundur pada setiap lembar kalender yang gugur. Aku akan menghitung hari, minggu, dan bulan, membayangkan saat di mana kakiku kembali menginjak peron Stasiun Tugu. Aku akan membawa pulang cerita-cerita dari timur, tentang laut yang biru legam, tentang angin yang membawa aroma garam dan harapan, tentang orang-orang baru yang kutemui di batas-batas negeri. Dan hingga tiba masanya langkahku diizinkan berpulang, aku hanya bisa menebak-nebak kehidupan seperti apa yang akan kau jalani di sini tanpa kehadiranku.
Barangkali, saat raga ini kembali menapak di sudut kota ini kelak, kau sudah menemukan labuhan yang paling akhir. Mungkin kau sudah merengkuh hangatnya keluarga kecil yang selalu kau semogakan di sela-sela obrolan malam kita. Kau pernah bercerita tentang rumah dengan halaman kecil, tentang suara tawa anak-anak, dan tentang seseorang yang akan menemanimu menua dengan damai. Jika hari itu tiba, dan aku kembali ke mari, sungguh, aku ingin ada di sana. Aku ingin menjadi saksi dari senyummu yang paling baka. Aku ingin melihat sahabatku mendapatkan seluruh kebahagiaan yang pantas ia terima dari dunia yang kadang terlalu kejam ini. Aku akan duduk di barisan paling depan, melihatmu berjalan menuju kehidupan yang baru, dan aku akan tersenyum dengan bangga, menyadari bahwa kau tidak pernah berubah, hanya saja kau kini memiliki lebih banyak alasan untuk bahagia.
Namun sebelum hari itu tiba, ada tanggung jawab yang harus kuselesaikan, dan ada permohonan yang harus kusampaikan. Biru, kutitipkan Jogja di pundakmu. Jaga kota ini agar tetap menjadi rumah yang ramah untuk kita pulang. Jangan biarkan ia kehilangan jiwanya hanya karena waktu terus berjalan.
Malam semakin larut di Hira. Kopi di gelasku sudah benar-benar dingin, menyisakan sisa fruity black yang mengendap di dasar kaca. Sama seperti perasaanku malam ini, yang mengendap dalam diam, menyisakan getir yang harus kutelan sendiri. Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak yang bersarang di rongga dada. Besok adalah hari yang baru, awal dari sebuah rentetan panjang menuju keberangkatanku. Akan ada banyak koper yang harus dikemas, banyak berkas yang harus ditandatangani, dan banyak perpisahan kecil yang harus kulalui sebelum perpisahan yang sesungguhnya tiba.
Aku tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Dua belas kota terpelosok itu akan menguji fisik dan mentalku. Akan ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah dan ingin menyerah. Akan ada malam-malam di mana rasa rindu pada udara Jogja, pada seduhan kopi di Hira, dan pada obrolan kita akan terasa begitu menyiksa hingga membuatku sulit bernapas. Namun, aku juga tahu bahwa ini adalah proses pendewasaan yang harus kulewati. Seperti tokoh-tokoh dalam novel melankolis yang sering kutulis, aku harus melewati penderitaan sebelum menemukan makna dari perjalanan itu sendiri.
Dari jauh, dari pesisir yang sepi dan pedalaman yang sunyi, rapalku akan selalu memelukmu erat. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu di setiap sepertiga malamku. Memastikan kau tak pernah kekurangan suatu apa pun, memastikan kau selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Dan biarlah, doa-doamu dari kota ini kelak menjelma menjadi perisai yang tak kasat mata, merengkuhku di setiap tapak pengembaraanku, melindungiku dari segala mara bahaya, dan menuntunku kembali pulang ke tempat di mana hatiku selalu berada.
Terima kasih, Biru, untuk segala waktu yang tidak pernah kita sesali. Sampai jumpa dua puluh enam bulan lagi, pada versi diri kita yang semoga telah jauh lebih dewasa dan utuh menghadapi dunia.





Komentar
Posting Komentar