Tak Melulu Tentang Bahagia
Ada hari-hari ketika aku merasa dilahirkan ke dunia yang berbeda dari milik orang lain. Seolah setiap orang membawa peta, sementara aku hanya membawa tanya. Namun, semakin jauh melangkah, semakin aku sadar bahwa barangkali memang beginilah cara rasa tumbuh dengan pelan, tanpa aba-aba, tanpa persetujuan. Kita semua bernaung di satu atap yang sama, sebuah tempat bernama dunia. Atap yang bocor di sana-sini, menyisakan genangan kisah pada setiap kepala. Di sinilah kita menimbun cerita, menumpuknya seperti debu yang enggan disapu. Dunia, seperti yang sering kudengar, bukanlah rumah bagi kepastian. Ia gemar bersembunyi di balik kemungkinan, membuat kita menebak-nebak, lalu tersenyum samar ketika tebakan itu meleset. Aku sering mengarungi diri sendiri seperti lautan yang konon penuh kesalahan. Ombaknya adalah kalimat-kalimat dari isi kepala yang tak pernah sepakat satu sama lain. Mereka berseteru tanpa jeda, mempersoalkan arah, mempersoalkan makna, mempersoalkan apakah semua ini layak diterus...

