Sepucuk Surat Untuk Masa Mudaku

 


Malam di pesisir Papua Barat ini tidak pernah benar-benar sunyi, tetapi ia memiliki cara tersendiri untuk mengheningkan dada yang sedang riuh. Di balik dinding barak tempatku menepi, desir angin lepas berbisik membawa aroma asin laut dan kelembapan rimba timur yang asing. Cahaya lampu meja membiaskan pendar redup di atas jemariku yang bergerak lambat di atas layar. Di luar sana, bentang alam Teluk Bintuni berpadu menjadi kegelapan yang pekat, seolah telan bulat-bulat segala keriuhan yang pernah kutinggalkan di tanah Jawa. Di tempat sejauh ini, ribuan kilometer dari derit papan kedai Hira dan riuh obrolan di sudut-sudut Jogja, pikiran-pikiran yang biasanya terdesak oleh rutinitas kerja perlahan mengapung ke permukaan.

Tak banyak cerita yang bisa kurangkai tentangnya, dan sejujurnya, ini memang bukan sekadar perkara merangkai aksara untuk konsumsi panggung publik. Ini adalah sebuah pengakuan yang mengendap jauh di dalam palung jiwa, sebuah catatan sunyi tentang pertemuan antara dua zaman yang saling menatap.

Beberapa orang di lingkaran tongkrongan kami di Jogja pernah berspekulasi dengan tergesa-gesa. Mereka berbisik dalam remang malam, meraba-raba alur persahabatan kami, lalu menyimpulkan bahwa kehadiran pria muda itu adalah untuk menggantikan sosok Fariz dalam lingkaran pertemanan kami. Mengingat prasangka itu membuatku tersenyum getir di tengah keheningan Bintuni malam ini. Betapa dangkal dan sederhananya cara manusia menilai sebuah ikatan batin. Pengandaian itu tidak benar sama sekali.

Fariz adalah sebuah bab yang telah diukir dengan kokoh dan anggun dalam sejarah hidup kami. Ia adalah pilar yang berdiri tegak di tempatnya semula, tak tergoyahkan oleh angin perubahan dan tak tergeser oleh guliran waktu. Tidak ada seorang pun yang bisa menempati ruang yang telah diisi oleh Fariz, sebagaimana tidak ada yang sanggup menghapus jejak kenangan yang telah dituliskannya. Fariz tetap ada pada posisinya yang abadi, menjadi porsi sejarah yang selalu dihormati di dalam struktur Dewan Tongkrongan.

Sedangkan dia, Athoya, hadir dengan takdir yang sama sekali berbeda. Ia tidak datang untuk menutup lubang yang ditinggalkan orang lain, melainkan membuka ruangnya sendiri yang teramat khusus dan personal dalam hidupku. Bila ada yang bertanya siapa dia bagiku, aku akan kesulitan memberi jawaban dengan kosa kata yang lazim. Dia bukan sekadar teman yang datang dan pergi saat kopi mulai dingin, bukan cuma sahabat yang berbagi tawa di bawah pendar lampu lapangan mancasan, dan bukan pula hanya sebatas saudara yang diikat oleh kesamaan pandangan hidup. Lebih dari semua julukan itu, Athoya adalah seseorang yang hadir sebagai refleksi murni dari masa laluku sendiri.

Saat aku menatap matanya, saat aku memperhatikan gerak-gerik, emosi, dan cara berpikirnya yang masih polos namun meletup-letup, aku seperti sedang berhadapan dengan bayangan diriku sendiri pada satu dekade yang lalu. Ia adalah pias jiwaku yang tertinggal sepuluh tahun silam, sesosok pemuda yang membawa ingatan masa lalu bertandang tepat di hadapanku, mengingatkanku pada siapa aku sebelum dunia orang dewasa mengikis banyak hal dalam diriku.

Melihat Thoya menjalani hari-harinya adalah seperti menonton ulang gulungan film tua tentang diriku sendiri. Dulu, sepuluh tahun yang lalu, ketika darah muda masih berdesir kencang dalam pembuluh darahku, kata lelah adalah sesuatu yang asing dan tak berharga. Dulu, seberapa jauh pun jarak yang membentang di atas peta, seberapa kelam pun malam bergulir, aku akan selalu menempuhnya tanpa ragu hanya demi menemui seorang kawan yang membutuhkan kehadiran atau sekadar merawat kebersamaan. Tidak ada kalkulasi untung dan rugi, tidak ada perhitungan stamina, biaya, atau kenyamanan pribadi. Jarak ratusan kilometer terasa runtuh di bawah roda kendaraan hanya karena sebuah ikatan pertemanan yang jujur.

Kini, aku menyaksikan Thoya melakukan hal yang persis sama. Ia menerjang jarak dengan gairah dan ketulusan yang sama besarnya. Ia mengabaikan rasa letih demi memastikan seorang kawan tidak merasa sendirian di tengah dinginnya dunia. Dulu, aku adalah tipe manusia yang akan menyerahkan apa saja yang kupunya selagi barang atau bantuan itu mendatangkan guna bagi orang lain. Aku akan memberikan sisa uang di dompetku, waktuku, tenagaku, hingga seluruh perhatianku tanpa pernah meminta tanda terima atau balasan Budi. Dan kini, di hadapanku, aku melihat Athoya mengulang setiap jengkal langkah itu. Ia memberikan apa pun yang sanggup ia beri dengan ketulusan yang polos, jujur, dan tanpa beban.

Melihatnya melakukan semua itu membuat dada ini bergetar oleh rasa haru yang aneh. Aku seperti dihampiri kembali oleh sosok masa mudaku yang telah lama hilang ditelan tumpukan tanggung jawab, kerumitan pekerjaan, dan pendewasaan yang kaku. Athoya adalah prasangka masa lalu yang hidup kembali, berjalan di depanku dengan pijar api yang pernah kukenal betul.

Namun, waktu adalah peretas yang paling dingin dan tidak kenal kompromi. Kini, di usiaku yang perlahan tapi pasti mulai mengetuk dan memasuki pintu kepala tiga, aku menyadari satu hal yang tak terbantahkan. Aku merasa lelah. Tubuh dan jiwaku tak lagi memiliki daya ledak atau kapasitas emosi yang sama seperti sepuluh tahun silam. Gairah yang dulu menyala-nyala kini telah meluruh menjadi abu keheningan yang tenang dan terukur. Langkahku tak lagi secepat dulu, dan keinginanku untuk membuktikan diri atau bertarung melawan dunia perlahan melenyap. Sisanya yang tertinggal dalam diriku kini hanyalah lembaran sejarah, sekumpulan catatan perjalanan yang telah mengkristal menjadi kenangan dan pengalaman. Aku telah sampai pada fase di mana aku harus legowo menepi, menyerahkan gelanggang keberanian kepada mereka yang darahnya masih mendidih oleh semangat muda.

Tak banyak yang bisa aku tuliskan tentang dirinya dalam catatan ini, sebagaimana tak banyak pula nasihat atau petuah menggurui yang bisa aku tumpahkan padanya saat kami duduk bersama. Aku selalu sadar bahwa menjejaki masa muda dengan tumpukan ajaran orang tua sering kali justru mematikan keaslian jiwa seseorang. Oleh karena itu, aku memilih untuk memberikannya ruang yang sebebas-bebasnya. Biarlah ia memilih sendiri jalan mana yang ingin ia tempuh, menentukan sendiri batas peta masa depannya, dan merasakan sendiri dingin serta panasnya dunia tanpa perlu dibayang-bayangi oleh dogma atau harapan orang lain.

Memang, sesekali aku mengajarinya hal-hal kecil. Tentang bagaimana membaca situasi dengan tenang, bagaimana menjaga adab di tengah keriuhan, atau bagaimana menyikapi kekecewaan dengan kepala tegak. Namun selebihnya, aku menyingkir ke samping dan memberikan seluruh rasa percayaku padanya. Aku percaya penuh bahwa ia adalah sosok yang tangguh, lebih tangguh dari apa yang ia bayangkan sendiri. Aku percaya ia mampu melewati setiap rintangan yang kelak melintang di jalannya, sekencang apa pun angin mencoba merubuhkannya. Aku percaya bahwa pada saatnya nanti, seiring bertambahnya kilometer yang ia tempuh dan luka yang ia temui di perjalanan, ia akan sanggup meredam semua gejolak rasa yang riuh di dalam dadanya. Ia akan belajar memberi ruang yang lapang untuk kata sabar, menata emosi yang letup-letup, dan yang paling terpenting dari segalanya, ia akan belajar bagaimana menjaga dengan taruhan jiwa apa pun yang ia anggap sungguh-sungguh berarti dalam hidupnya.

Malam di Teluk Bintuni semakin larut, dan kabut dingin semakin erat memeluk sudut-sudut wilayah kerja ini. Angin malam yang menembus celah ventilasi terasa begitu menusuk kulit. Namun, anehnya, setiap kali pikiran ini tertuju pada Thoya dan segala dinamika yang membuntutinya, ada semacam kehangatan tak kasat mata yang perlahan menyelimuti jiwaku yang mulai dingin dan kaku ini. Kehadirannya di dalam hidupku bukan hanya tentang apa yang bisa kuajarkan padanya sebagai senior atau orang yang lebih tua, melainkan tentang apa yang ia ajarkan kembali kepadaku tanpa ia sadari.

Darinya, secara tak langsung, aku banyak belajar kembali. Aku belajar untuk berani menjadi diri sendiri tanpa perlu memakai topeng-topeng sosial yang meletihkan. Dan yang tak kalah penting, dari Athoya aku belajar untuk berdamai dan menerima kenyataan pahit namun manis bahwa aku sudah berumur. Aku tak lagi perlu berpura-pura menjadi pemuda dua puluh tahun yang serba bisa, tak kenal lelah, dan selalu ingin menaklukkan dunia. Ia mengajarkanku bahwa bertambah tua bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah peralihan peran yang harus diselami dengan keanggunan dan keikhlasan.

Ini adalah selembar surat yang kualamatkan khusus untuk masa mudaku yang kini bersemayam dalam raga Athoya. Sebuah pesan jujur dari seorang lelaki yang sedang menepi di ujung timur negeri, di antara kilang dan cita-cita yang harus ditunaikan.

Jadilah parang untuk dirimu sendiri. Di tengah belantara dunia yang makin liar, tertutup rapat, dan dipenuhi semak belukar kepalsuan, kau tidak bisa hanya mengandalkan belas kasihan atau menumpang pada jalan yang telah dirintis oleh orang lain. Kau harus menjadi bilah tajam yang berani menebas sulur-sulur keraguan, membabat rintangan yang menghadang di depan mata, dan menempa ketajaman jiwamu sendiri melalui kerasnya ujian hidup. Jadilah parang yang sanggup membuka jalan baru, bukan hanya agar langkah kaki dan cita-citamu sendiri bisa maju menerabas ketidakpastian, melainkan juga agar jalan yang kau buka itu kelak bisa menjadi pijakan yang aman, lapang, dan teduh bagi orang-orang lain yang berjalan di belakangmu.

Bawalah ketulusan itu sejauh mungkin, Thoy. Jaga api yang ada di dalam dadamu agar tidak padam oleh dinginnya kekecewaan atau pengkhianatan dunia. Kelak, ketika kau berada di posisi seperti posisiku hari ini, ketika usiamu mulai mengetuk kepala tiga dan kau duduk di sebuah tempat yang jauh sambil menatap jejak masa lalu, kau akan tersenyum bangga menyadari bahwa kau tidak pernah mengkhianati jiwamu sendiri.

Teluk Bintuni, 3 Oktober 2026

Dirgantara Ibnu Zekan



Komentar

Postingan Populer