Pergi untuk pulang
Bandara Soekarno-Hatta, 28 September 2026.
Malam ini melilit leherku dengan rasa sakit yang begitu dingin dan menghimpit. Di ruang tunggu bandara yang lapang dan lengang ini, di bawah pendar lampu neon yang redup dan hembusan pendingin udara yang menusuk tulang, raga ini akhirnya harus beranjak. Suara pengumuman keberangkatan yang terdengar lewat pengeras suara berulang kali seolah menjadi dentang lonceng perpisahan yang tak terelakkan. Lengkingan roda koper di atas lantai marmer, derak langkah kaki para penumpang yang tergesa, serta riuh rendah bisikan asing di sekelilingku justru semakin mempertegas kesendirian yang mencengkeram. Aku harus melangkah menuju gerbang keberangkatan, memunggungi segala kenyamanan, membelakangi setiap jengkal kenangan, dan meninggalkan kota yang selama ini selalu kusebut sebagai rumah.
Demi menantang garis cakrawala yang membentang samar di kegelapan malam, dan demi memenuhi ambisi besar para penguasa di atas sana, aku merelakan diri dikendalikan oleh tirani. Aku melangkah bukan lagi sebagai manusia bebas yang merdeka atas cita-citanya, melainkan sebagai sosok yang digerakkan oleh jemari tak kasat mata dari sebuah mesin kekuasaan. Aku telah menjadi boneka bedebah, sebuah alat yang ditumbalkan demi memberi makan ego orang-orang yang tak pernah kenyang akan dominasi. Ada ironi yang sangat pahit dalam setiap derap langkahku malam ini.
Aku terpaksa melipat rapat-rapat idealisme yang selama ini kujaga dengan penuh kebanggaan, lalu membuangnya tanpa sisa ke sudut tergelap dalam jiwaku. Keadaan dan himpitan hidup menyudutkanku tanpa menyisakan ruang untuk bernegosiasi. Demi lembaran rupiah, aku harus menundukkan kepala, merendahkan martabat pemikiranku, dan melangkah masuk ke dalam lingkaran permainan mereka. Aku dipaksa untuk berkompromi dengan segala tindak tanduk dan kebijakan rezim yang dulu kerap kukritik dalam ruang-ruang diskusi.
Malam ini, penerbangan ini akan membawaku bertolak menuju sebuah teluk yang indah di belahan timur negeri. Sebuah teluk yang murni, tempat di mana ombak membentur karang dengan keheningan yang alami. Namun, ada kepedihan mendalam saat membayangkan masa depan tempat itu. Di dalam kepalaku, terbayang gambaran buram di mana teluk yang elok itu mungkin akan segera kehilangan keindahannya. Di atas perairan yang jernih itu, cerobong-cerobong besi dan kilang-kilang minyak raksasa akan berdiri dengan angkuh, memuntahkan asap dan limbah yang merenggut keperawanan alamnya. Ah, tapi barangkali itu hanya keputusasaan perasaanku saja yang sedang kalut. Barangkali itu hanya prasangka dari jiwa yang sedang dipenuhi rasa bersalah. Aku hanya bisa merapal doa di dalam hati, berharap bahwa melangkah ke jalan ini, bagaimanapun getirnya, adalah keputusan paling tepat yang pernah kubuat dalam hidupku.
Namun sejauh apa pun pesawat ini terbang membawa ragaku, hatiku tidak ikut beranjak. Hatiku tertinggal jauh di belakang, menetap dan mengendap di tanah Jogja. Jiwaku terpaut erat pada sekelompok manusia yang telah tumbuh bersama waktu, menjadi lebih dari sekadar kawan, mereka telah menjadi saudara kandung di atas bumi Mataram. Mereka adalah orang-orang baik, jiwa-jiwa tulus yang dalam setiap helai nafasnya selalu kuupayakan untuk kucintai dan kuperlakukan dengan cara terbaik yang kupunya.
Meninggalkan mereka malam ini adalah patah hati terbesarku di sepanjang tahun ini. Ini bukan sekadar rasa sedih biasa; ini adalah luka dalam yang menganga, sebuah remuk redam yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan perpisahan asmara atau putus cinta paling dramatis sekalipun. Ini bukan hiperbola, bukan pula gurauan yang dibuat-buat untuk memperindah catatan harian. Ini adalah kesaksian jujur dari seorang manusia yang harus menanggalkan separuh dari eksistensi dirinya. Kehilangan presensi mereka di sisiku terasa seperti mencabut paksa salah satu pilar utama yang menyangga hidupku selama ini.
Bila berbicara tentang putus cinta dan duka masa lalu, semesta sejatinya pernah membawaku pada titik terendah. Namun, di tengah puing-puing kehancuran itu, semesta yang sama justru mempertemukanku dengan sebuah dermaga baru. Di saat jiwaku terombang-ambing di tengah samudra kekecewaan, aku menemukan sosoknya. Aku jatuh hati padanya dengan cara yang sesederhana mungkin. Bersamanya, aku memutuskan untuk mengakhiri masa berduka, menyapu bersih sisa-sisa patah hati yang pernah membelenggu, dan membuka lembaran baru.
Namun, takdir selalu punya alur cerita yang tak terduga. Sebelum aku sempat menambatkan diri ini sepenuhnya di dermaganya, sebelum aku sempat menikmati ketenangan di pelukannya, aku harus pergi terlebih dahulu. Tugas dan penugasan ini memanggilku untuk berlayar menjauh. Aku adalah kegelapan, sebuah jiwa yang dingin, kaku, dan dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu. Namun keberadaannya, cahaya lembut yang ia miliki dalam senyum dan tatapannya, secara ajaib berhasil mendobrak masuk, merobohkan benteng pertahanan yang kubangun mati-matian, dan menghangatkan jiwa yang semula membeku ini.
Jogja, malam ini lewat aksara yang kutulis dengan jemari gemetar, aku titipkan orang-orang baik ini dalam dekapmu. Rawatlah mereka sebagaimana kau selalu merawat jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan. Temani hari-hari mereka saat malam terasa terlalu dingin, peluk erat jiwa dan raga mereka dengan udara malammu yang teduh, hingga hari di mana aku diizinkan untuk kembali melangkah di atas jalan-jalanmu dan berpulang ke tengah-tengah mereka.
Orang-orang baik itu adalah Dewan Tongkrongan. Mereka bukan sekadar teman menghabiskan waktu di sudut lapangan mancasan (angkringan bu Bre) atau pelengkap obrolan malam. Mereka begitu istimewa, begitu berharga. Setiap orang di dalam lingkaran itu memiliki karakter, integritas, dan nilainya masing-masing yang tak dapat ditukar dengan apa pun. Di tengah dunia yang semakin dangkal dan penuh kepura-puraan, mereka adalah oasis kejujuran. Dan kepada orang-orang inilah, tanpa ragu sedikit pun, aku percaya untuk menitipkan hatiku selama aku berkelana di tempat yang jauh.
Dua puluh enam bulan. Angka itu terpatri jelas di ruang rinduku. Dua puluh enam bulan bukan sekadar durasi penugasan, melainkan sebuah rentang waktu yang akan kutempuh dengan kesabaran yang ditempa. Aku akan merapal hitung mundur setiap harinya. Setiap kali matahari terbit dan tenggelam di ufuk timur yang asing nanti, aku akan mencoret satu hari dalam kalender batinku. Aku akan dengan setia menantikan momen pertemuan itu tiba kembali, sebuah perjumpaan yang dirayakan dengan tawa dan pelukan hangat bersama Dewan Tongkrongan. Dan yang paling utama, aku menantikan hari di mana langkah kakiku akhirnya bisa berpulang, berlabuh dengan utuh di dermaga itu, pada sosok yang telah menjadi cahaya bagi jiwaku.
Air mataku tak berhenti menetes saat menuliskan baris demi baris kalimat ini di layar ponselku. Kehangatan air mata ini jatuh menimpa pangkuan, menjadi saksi bisu atas kepedihan yang tak sanggup diucapkan oleh mulut. Namun di balik kebasahannya, ada kepasrahan yang jujur. Aku menyadari bahwa semesta memang selalu memiliki caranya sendiri yang keras, tak terduga, namun penuh kebijaksanaan untuk mendidik manusia. Semesta sedang menempaku melalui jarak, membakarku dalam kawah perpisahan, agar kelak aku bisa berproses menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tangguh, dan lebih bijaksana dalam menghargai arti sebuah kehadiran.
Terima kasih, semesta, atas luka, kesempatan, cinta, dan pengajaran yang kau hamparkan malam ini. Aku menerima seluruh proses ini dengan dada lapang. Sampai jumpa di ujung penantian.












Komentar
Posting Komentar